August7
Notes ini merupakan follow up dari status saya dengan judul yang sama :
Sebesar Anda belajar mencintai, sebesar itu Anda akan belajar membenci…
Bagaimana menurut Anda ?? ^_^
————————————————————————————
Banyak sahabat yang telah mengapresiasi status saya tersebut dengan berbagai sudut pandang mereka.
Saya mengerti jika banyak yang membaca status tersebut, lalu mengartikan tentang sebuah perasaan Cinta yang bisa berubah menjadi Benci terhadap seseorang.
Pemahaman seperti itu, wajar menurutku, karena memang hal tersebut tidak dapat dipungkiri bisa terjadi dalam kehidupan kita. Bahwa terkadang, seseorang yang dibenci, malahan menjadi orang yang dicintai dan sebaliknya, orang yang paling dicintai berubah menjadi orang yang paling dibenci.
Mengapa demikian ??
Ada yang bilang cinta dan benci itu bedanya tipis sekali. Sebuah pepatah mengatakan, “Batas antara cinta dan benci hanyalah setipis rambut.” Benarkah demikian ?
Pernahkah Anda membaca terjemahan berikut ini ?
“Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS.Al Baqarah : 216)
Asbabun nuzul ayat di atas adalah berkenaan dengan kebencian pada berperang di jalan Allah.
Tapi coba perhatikan ayat tersebut di atas dengan saksama, kata benci dan cinta disatukan dalam satu ayat. Tentu saja, ini membuat penasaran. Seolah-olah dalam ayat tersebut diisyaratkan adanya kedekatan makna di antara dua hal yang bertolak belakang tersebut.
Bagaimana dengan temuan ilmiahnya?
Secara singkat, PercikanIman.org membahas tentang Antara Benci dan Cinta sebagai berikut :
Profesor Semir Zeki dan John Romaya dari University College (London) telah membuat peta sirkuit syaraf otak orang-orang yang terlibat cinta. Mereka berdua meneliti 17 orang yang sedang membenci seseorang, sebagian besar dari orang yang dibenci tersebut adalah orang yang pernah dicintai.
Kepada masing-masing responden ditunjukkan foto orang yang dibenci selama 16 detik dan pada saat yang bersamaan alat scanner memetakan aktivitas otak mereka. Hasilnya menunjukkan adanya dua wilayah (sektor) otak yang sama-sama aktif ketika ada rangsangan emosi benci maupun cinta. Dua sektor tersebut dinamakan Putamen dan Insular Cortex.
Putamen berfungsi mempersiapkan gerakan tubuh sehingga bisa menjadi aktif saat bersiap membela yang orang dicintai atau bersiap menyerang orang yang dibenci. Sedangkan insular cortex berhubungan dengan perasaan tertekan seperti rasa cemburu.
Zeki dan Romaya mendapati bahwa aktifitas otak selaras dengan tingkat kebencian atau kecintaan terhadap satu obyek. Akhirnya, Zeki pun mengusulkan agar brain scanning digunakan dalam pengadilan untuk mendeteksi apakah ada rasa benci (yang tinggi) yang dimiliki tersangka terhadap korban dalam kasus pembunuhan.
Kesimpulannya, sektor otak yang digunakan untuk emosi cinta dan benci adalah sama.
Nah, mungkin itulah mengapa cinta dan benci itu batasnya tipis sekali.
————————————————————————————
Lalu, benarkah sebesar kita belajar mencintai, sebesar itu pula kita akan belajar membenci… ?
Coba kita temukan bersama jawabannya…
Cinta dan benci adalah dua hal yang tidak pernah dapat bersatu. Benarkah ??
Benar !! — untuk obyek atau hal yang sama, keduanya tidak dapat bersatu.
Anda tentu tidak dapat mencintai sekaligus membenci seseorang yang sama.
” Cinta itu bisa mmsnahkan benci.. krn ada cinta, qt tak snggup u mmbenci.. sprti cinta qt pd Pencipta,tak mngkin u dibenci.
Benar, untuk hal yang sama, kita tidak bisa mencintai sekaligus membencinya.
Jika Anda sedang benci menunggu, Anda tidak akan suka menunggu. Namun jika Anda mulai suka dan menikmati menunggu, Anda berarti sudah tidak benci menunggu.
So, cinta itu bisa memusnahkan benci dan hukum berbanding terbalik pun berlaku bahwa benci bisa memusnahkan cinta karena cinta dan benci adalah dua hal yang tidak pernah dapat bersatu.
Tapi, tunggu dulu !!
Hal itu benar – dalam konteks — untuk objek atau hal yang sama.
————————————————————————————
Dalam konteks yang berbeda, untuk hal-hal yang berlawanan, cinta dan benci adalah dua hal yang harus ada bersamaan. Jadi, orang yang mencintai, seharusnya juga membenci..Tak Percaya ??
Jika Anda mencintai ilmu dan kepandaian, Anda seharusnya juga membenci kebodohan. Karena ilmu dan kebodohan itu berlawanan.
Jika Anda mencintai kedisipinan, maka Anda seharusnya juga membenci lawan dari kedisiplinan itu.
Kembali pada status saya,
Sebesar Anda belajar mencintai, sebesar itu Anda akan belajar membenci…
Saya tidak mengatakan “Sebesar Anda belajar mencintai seseorang, sebesar itu Anda akan belajar membenci orang itu…
Jadi,
Sebesar apa Anda belajar mencintai kesetiaan, sebesar itu Anda harus belajar membenci pengkhianatan dan perselingkuhan..
Sebesar apa Anda belajar mencintai kesuksesan, sebesar itu Anda harus belajar membenci rasa malas dan putus asa..
Sebesar apa Anda belajar mencintai kebaikan, sebesar itu Anda harus belajar membenci keburukan..
Ini adalah nasehat untuk diri saya pribadi, yang masih harus banyak belajar untuk tidak sekedar “mengaku-ngaku” cinta..
Seseorang yang mengaku cinta pada kesuksesan, tapi masih belum bisa membenci kemalasan dan sikap menunda-nunda.. maka apakah layak dikatakan mencintai kesuksesan ?
Seseorang yang mengaku cinta pada ketulusan dan kesetiaan, tapi masih belum bisa membenci dusta, malah berkhianat dan selingkuh di belakang.. maka apakah layak dikatakan mencintai ketulusan dan kesetiaan ?
Seseorang yang mengaku cinta pada kesucian, harga diri dan kehormatan, tapi masih belum bisa membenci sikap-sikap yang merendahkan diri, malah berbuat hal-hal yang menurunkan harga dirinya.. maka apakah layak dikatakan mencintai kesucian, harga diri dan kehormatan ?
Seseorang yang mengaku cinta pada kebaikan, tapi masih belum bisa membenci keburukan, malah selalu melakukan keburukan.. maka apakah layak dikatakan mencintai kebaikan ?
Seseorang yang mengaku cinta pada Allah, sebesar apa dia belajar mencintai-Nya, maka sebesar itu semestinya dia belajar membenci musuh-Nya, syaitan. Bukankah ia adalah musuh yang nyata bagimu? maka jadikanlah ia musuh…
Sebesar Anda belajar mencintai, sebesar itu Anda akan belajar membenci…
————————————————————————————
Terima kasih buat Para Sahabat yang telah mengapresiasi status saya. Masukan kalian sangat berarti.